RSS

ISLAM, TOLERANSI, DAN PERAYAAN NATAL

21 Dec

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Tiba di penghujung tahun, kaum muslimin kembali diuji iman, aqidahnya. Masuk di akhir bulan Desember dimana muslim kerap terjebak dalam sebuah kata yaitu “toleransi”. Sebagian umat islam atas nama toleransi dan tuntutan pekerjaan diminta untuk ikut dalam perayaan hari raya Natal. Pada akhirnya tidak sedikit umat islam yang ikut mengucapkan “selamat natal” dan mengenakan atribut-atribut natal.

Lalu bagaimana kita menyikapinya ?

Sikap umat islam sendiri beragam ada yang menganggap bahwa ikut dalam perayaan natal—seperti mengucapkan selamat natal atau mengenakan atribut natal—hanyalah sebagai wujud dari toleransi antar umat beragama yang tidak akan sampai merusak aqidah karena yang penting mereka tetap meyakini islam sebagai agama yang mereka anut. Dan pada sebagian umat islam lainnya ada yang dengan tegas menganggap bahwa ikut dalam perayaan umat agama lain termasuk natal adalah haram.

Mari lihat bagaimana sikap Rasulullah di bawah ini:

“Rasulullaah SAW jika mengiringi jenazah, tidak duduk hingga mayit dimasukan ke liang lahat. Seorang ulama Yahudi mendekat dan berkata; ‘beginilah yang kami lakukan wahai Muhammad’.” Ubaidah berkata; “Lantas Rasulullaah SAW duduk dan bersabda; ‘Selisihilah mereka’.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah saja memperingatkan kepada para sahabatnya untuk selalu berupaya menyelisihi atau membuat perbedaan dari (kebiasaan) orang-orang kafir.  Lalu bagaimana kita umatnya yang harusnya menyelisihi mereka, tapi malah bersama-sama berbaur menjadi satu dalam perayaan agama orang-orang kafir.

Rasulullah pernah bersabda,

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Perhatikan hadist di atas. Tidakkah kita takut dianggap termasuk ke dalam golongan mereka saat kita coba (melakukan hal) serupa seperti orang-orang kafir?

Dan untuk mereka orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT namun mereka berdalih bahwa bukan sebuah masalah yang besar ketika kita sekedar mengucapkan “selamat” biasa tanpa ikut mengimani kepercayaan mereka non muslim. Apa mereka tidak berfikir kata-kata yang mereka anggap sepele itu bisa “menyakiti” Allah? Tak tahukah kita bahwa natal adalah hari dimana umat nasrani merayakan hari kelahiran Yesus sebagai anak Allah? Tak sadarkah kita mendukung perayaan natal tak ubahnya kita mendukung pendustaan Nabiyullaah Isa As. sebagai utusan Allah dan menjadikannya Tuhan sebagai sekutu Allah? Bukankah yang seperti ini tak ubahnya kita menistakan agama kita sendiri?

“Dan mereka : “Tuhan Yang Maha Esa Pemurah mengambil (mempunyai) anak. “sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hamper-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

Wahai saudara seimanku jagalah aqidah kita, jagalah iman islam kita. Jangan biarkan kita terjebak oleh kata “toleransi” dan semua propaganda kaum kuffar yang ingin melemahkan aqidah kita kaum muslimin. Toleransi dalam islam ada batasnya, yakni cukup dengan mempersilahkan dan tidak mengganggu agama lain menjalankan ibadah mereka. Adapun bila kaum-kaum kuffar itu mencibir kita yang mereka anggap intoleransi karena tidak mau mengenakan atribut natal—seperti pakaian ala Santa Claus— dan tidak mau mengucapkan selamat hari raya agama mereka, katakan kepada mereka bahwa sesungguhnya merekalah yang tidak bisa toleransi karena (secara tidak langsung) mereka telah memaksa kita untuk mau mengikuti kegiatan keagamaan mereka.

Wahai saudara seimanku jauhkan iman kita dari paham liberal, paham sesat yang mengatakan bahwa semua agama benar.

Allah berfirman;

“Sesungguhnya agama yang paling benar di sisi Allah adalah islam” (QS. Ali Imran: 19)

“Apakah mereka mencari agama lain selain Allah? Padahal segala apa yang di langit dan di bumi be-islam (menyerahkan diri) kepada-Nya, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Dan hanya kepada Allah-lah mereka semua dikembalikan.” (QS. Ali Imran: 83)

 “Barangsiapa menganut agama selain islam, maka amal ibadahnya tidak akan diterima, dan di akhirat nanti mereka termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Ali Imran: 85)

Jika kita memilih islam sebagai agama yang paling benar maka cukupkan diri kita hanya dengan islam . Biarkan mereka  dengan agama mereka tanpa mengganggunya dan tanpa mencampuri keyakinan kita dengan keyakinan mereka.

“Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS. Al Kafirun: 6)

*       *       *

Percakapan Antara Pria Muslim Dan Wanita Nasrani Saat (Menjelang) Natal

Maria : “Hai Ahmad, kenapa akhir-akhir ini aku sering lihat ada banyak gambar muslim yang menolak   topi Santa Claus?”

Clara : “Sebenarnya itu adalah bentuk protes terhadap pemilik tempat kerja yang memaksa karyawannya yang muslim untuk mau mengenakan atribut natal. Protes ini merupakan bentuk kepedulian umat muslim terhadap terjaganya aqidah atau iman saudara seimannya.”

Clara : “Bukankah itu hanya sekedar pakaian?”

Ahmad : “Maukah kamu memakai hijab juga cadar saat hari raya islam.”

Clara : “Tidak, aku tidak mau!”

Ahmad : “Jadi sudahkah kamu mengerti?”

Clara : “Lalu bagaimana dengan ucapan selamat natal? Apa kamu juga tidak ingin menunjukan rasa toleransi  beragama meski hanya sebuah ucapan?”

Ahmad : “Mau kah kamu mengucapkan 2 kalimat syahadat? Ayo ikuti ucapanku; ‘Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’ Ayo coba ikuti ucapanku bukankah ini hanya sebuah ucapan?”

Clara : “Tidak mungkin aku mengikuti ucapanmu. Itu mengganggu keyakinanku”

Ahmad : “Jadi sudahkah kamu mengerti?”

Clara : “Aku minta maaf. Sekarang aku mulai paham alasannya”

Ahmad : “Dalam islam syarat menjadi muslim adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Seyakin apapun seseorang terhadap islam tapi jika ia belum mengucap syahadat maka belum sempurnalah islamnya. Itulah mengapa ucapan yang berkaitan dengan iman sangat penting dan sangat sensitif dalam islam, termasuk pengucapan selamat hari raya non muslim. Kemudian satu hal lagi, dalam hal toleransi islam memiliki batas. Dan bagiku toleransi tidak perlu sampai mengikuti melainkan cukup hanya dengan mempersilahkan  kamu melakukan ibadah agamamu dan tidak sampai mengganggu ibadahmu”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 21 December 2014 in KASUS DAN KONSPIRASI

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: